Pekan Perpustakaan Kemendikbud Dan Digitalisasi Untuk Perkembangan SDM Unggul

Senin 3 Desember 2019 kami dari komunitas blogger menghadiri undangan dari kemendikbud dalam acara pekan perpustakaan kemendikbud 2019 yang diselenggaran di gedung kemendikbud senayan.
Hadir sebagai pembicara utamanya adalah bapak Ade Erlangga dan bapak Hasan Chabibie.

Bapak Ade Erlangga dosen dan Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat ( BKLM )

Guru mempunyai andil yang sangat besar untuk meningkatkan kecerdasan anak bangsa sehingga anak didik tersebut dapat mengukir sejarah .Guru mampu mengukir kepribadian, mampu mengukir sejarah dan bisa mengukir lingkungan.

Ga heran kalau di negara maju seperti jerman berani menggaji profesi guru tertinggi di Negara tersebut. Kalau di indonesia masih berjuang, sedang berjuang , guru perjuang strategi pemerintah membuat sertifikasi yaitu untuk memfasilitasi Guru , karena faktor era globalisasi budaya Materialistik yang kencang, menyebabkan banyak karakter guru berubah.

Guru harus berprofesi sebagai guru. Guru adalah orang yang mentransformasikan nilai, bukan yang utamanya mengtransformasi pengetahuan. Guru mampu membuat anak didiknya memiliki Nilai Cuorisity (rasa ingin tau) dan Self kconfidence , yaitu karakter seseorang yang punya kekuatan diri dalam menghadqpi berbagai macam terpaan sehingga ini menciptakan konfidence self konsep. Dimana ada tokoh ideal atau referensi untuk anak tersebut , sehingga 5 atau 10 thn dia sudah bisa menentukan mau jadi apa.

Kemudian digitalisasi pendidikan , untuk apakah itu? Yaitu untuk akselirisasi, contohnya : Spreading, supaya lebih cepat menggunakan digitilsasi, bisa lebih cepat menyentuh siapa saja dalam waktu yg tidak terlalu lama.


Apakah digitalisasi bisa menggantikan peran guru? Tentu saja tidak bisa karena guru mentranspormasikan nilai, harus ada tatap muka, ada sentuhan, ada emphati, ada perasan, ada komunikasi ada sedih, ada bangga, ada bahagia, ada apresiasi, itu yg dilakukan oleh guru,

Pembentukan karakter tidak bisa digantikan oleh digitalisasi seperti pak menteri katakan : Pembentukan Karakter, Regulasi , Investasi Inovasi , Menciptkaan Lapangan Kerja dan Pemberdayaan Tehnologi Digitalisasi

Apakah home schooling bisa menggantikan pendidikan tatap muka dikelas? Menurut pak Ade , Tidak

Pendidikan itu bentuknya terbagi atas 2

  1. Laten function : bisa bertemu teman
  2. Manifes function : terjadi transportmasi pengetahuan nilai
    Tdk semua bisa manifes fanction hanya untuk orang2 tertentu..proses transformasi nilai paling bagus dengan kelompok . Karena yang paling penting adalah interaksi.

Tehnologi pendidikan penting untuk mencerahkan, untuk mengajar ketertinggalan konten , konten harus dikejar dengan digitalisasi. Belajar bisa dimana aja, tetapi fungsi guru harus ada disitu, tidak hanya memberikan pengetahuan, justru yg penting adalah interaksi.

Ada beberapa hubungan interaksi : Self disclosing adalah hubungan interpersonal. (Tdk ada jarak seperti suami istri) Sosial distance (jarak sosial), Private distance, Long distance

Kedepan pasti akan mengambil semua jalur pendekatan untuk bisa memperdayakan pendidikan kita. Tidak hanya pendekatan interpersonal, orkof kemudian komunikasi atau pendekatan digitalisasi dan semua itu di dominasi oleh kultural yg ada di masyarakat global kita (global ke arah matrialistik) , Contoh jika pergi ke negara nepal, tdk ada gedung2 tinggi , orang masih menggunakan pakaian2 tradisional jadi pengaruh kapitalisme kurang sama seperti awal2 indonesia merdeka. Orang masuk sekolah dengan apa adanya ga pake sepatu Tetapi punya semangat

Pergeseran pembangunan Materialistik bisa menyebabkan terjadi pergeseran norma. Pendidikan salah satu yg terpengaruh akibat terjadinya pergeseran norma.

Bapak Hasan Chabibie : Kepala Pustekkom yang mengangkat matengenai inovasi Digitalisasi Sekolah Menggunakan Portal Rumah Belajar.


Bagaimana peran tehnologi pendidikan bisa lebih mencakup lebih luas, lebih efisien terutama membangun konten dan menguasai konten sehingga bisa bekerja dimana saja, bisa bergaul sama siapa saja dan menjadi visioner

Kedepan UN ditiadakan , kenapa? karena sering sekali menilai anak itu dikaitkan dengan sekolahnya , anak – anak tauran yang melakukan tauran adalah rata- rata yang scorenya jelek, dan ini mestinya tidak menilai seperti itu.

Kalau yang bagus tidak diboleh diukur, jangan dikasi nilai A, tetapi dikasi bentuk yg lain.
Sekarang anak mau masuk sekolah di assagne dulu, yg bagus seperti itu untuk memilih jurusan.


Seorang Guru juga harus berkarakter , suatu alasan bagaimana pendidikan maju kedepan, jangan hanya anak saja yang disuruh berkarakter tetapi guru juga , satuan pendidikannya juga , termasuk satuan politik juga . Harus jujur, kedepan dgn proses digitalisasi akan lebih terbuka lagi, sehingga bisa menjadikan pendidikan indonesia lebih baik lagi kedepannya.

Seperti Pak Ade sampaikan juga bahwa semua orang bisa menjadi guru walaupun profesinya bukan pendidik, sehingga anak anak kita kedepan bisa menjadi anak yang pintar dan berkarakter , mereka harus memiliki misi dengan digitalisasi , dan harus siap kalau beberapa tahun kedepan akan ada profesi yang tidak lagi muncul karena pengaruh perkembangan digitalisasi.

Blogger